Posts

Aku Bukan Fathimah (3)

Image
07 April 2019 Sepasang sepatu terlihat di teras rumah. Seorang tamu hendak meminta restu mamak abah. Memutuskan untuk menerima pinangan seorang laki-laki ternyata bukan perkara yang mudah. Aku harus berulang kali membunuh ragu dan resah. Komitmen besar yang kusebut menikah, bukan sekedar harapan menuju kata sah. Didalamnya ada besarnya amanah, yang harus dipikul seumur hidup pantang menyerah. Untukmu pemilik sepasang sepatu diteras rumah. Terima kasih sudah berjuang tak kenal lelah, untukku yang pernah patah - oleh tahun-tahun hubungan yang tak berarah.

Aku Bukan Fathimah (2)

Image
Aku diam, kau diam. Kemudian kita memberi kesempatan pada waktu, membiarkannya menciptakan kebekuan diantara kita. Beku hingga jariku kaku untuk sekedar menuliskan pesan singkat untuk menanyakan kabarmu. Aku terlalu malu, sungguh. Tidak seperti hari-hari kemarin yang telah lama berlalu. Kita biasa bercanda tawa tanpa gagu. Bagiku begitu lucu. Bukankah jarak dicipta agar rindu tetap hidup tanpa redup?--- Itu kata seorang penulis yang belakangan karyanya begitu kusukai. Jarak memang telah mencipta rindu, membawa kita kepada dua kutub, utara dan selatan. Dua-duanya sama-sama dingin. Mungkin begitulah kita, mungkin. Tugumulyo, 2017

Aku Bukan Fathimah

Image
Kelak kita butuh waktu untuk bicara. Pada apa-apa yang kini masih tak mampu kita ucap lewat kata. Untuk rahasia yang tetap kita biarkan menjadi rahasia. Untuk rasa yang tak disadari menyelinap lewat curahan kata, yang kemudian kukutuki dalam-dalam karena aku merasa itu belum waktunya. Ah, barangkali karena aku memang manusia biasa. Memang begitulah adanya. Untuk kita yang lebih memilih bisu dan saling mendiam, suatu kali kita menyadari bahwa rasa tak melulu bisa diredam. Karena nyatanya kebisuan dan keterdiaman yang kita cipta, telah membuat kita hanya mampu saling menerka. Kini kita hanya perlu percaya. Bahwa sejauh apapun kita berada, selama apapun kita memilih untuk tak saling menyapa, kita tetap bisa menyatu dalam rasa, yang kita lantunkan lewat do’a. Kita hanya butuh kebesaran hati untuk mengalah. Pada apa-apa yang telah terarah. Bahwa takdir yang ditulis oleh-Nya tak pernah salah.            Maka, sampai pada baris tera...