Aku Bukan Fathimah

Kelak kita butuh waktu untuk bicara. Pada apa-apa yang kini masih tak mampu kita ucap lewat kata. Untuk rahasia yang tetap kita biarkan menjadi rahasia. Untuk rasa yang tak disadari menyelinap lewat curahan kata, yang kemudian kukutuki dalam-dalam karena aku merasa itu belum waktunya.

Ah, barangkali karena aku memang manusia biasa. Memang begitulah adanya. Untuk kita yang lebih memilih bisu dan saling mendiam, suatu kali kita menyadari bahwa rasa tak melulu bisa diredam. Karena nyatanya kebisuan dan keterdiaman yang kita cipta, telah membuat kita hanya mampu saling menerka.

Kini kita hanya perlu percaya. Bahwa sejauh apapun kita berada, selama apapun kita memilih untuk tak saling menyapa, kita tetap bisa menyatu dalam rasa, yang kita lantunkan lewat do’a. Kita hanya butuh kebesaran hati untuk mengalah. Pada apa-apa yang telah terarah. Bahwa takdir yang ditulis oleh-Nya tak pernah salah.
          
Maka, sampai pada baris terakhir tulisan ini dibuat, aku ingin menyampaikan salam hormat sembari membungkuk takzim untuk jiwamu yang tak goyah, menanggapi jiwaku yang mulai lelah.

Tugumulyo, April 2017



Comments

Popular posts from this blog

Aku Bukan Fathimah (3)

Aku Bukan Fathimah (2)